S1 Farmasi

Program Studi S1 Farmasi
TERAKREDITASI BAIK Sesuai SK Mendikbud No.349/E/O/2014

Menyelenggarakan program studi S1 Farmasi jalur reguler dan ekstensi.

Download Brosur S1 Farmasi Icon of Brosur-S1-Farmasi Brosur-S1-Farmasi (1.0 MiB)

Icon of Perlengkapan Masuk Asrama Perlengkapan Masuk Asrama (84.3 KiB)

Persyaratan Jalur Reguler

1. Lulusan SMA, SMF, SMK, MA sederajat (semua jurusan)
2. Lulusan Paket C
3. Copy leges ijasah dan Hasil UN
4. Pas foto 2×3, 3×4, 4×6 masing-masing 4 lembar
5. Lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru
6. Membayar uang pendaftaran Rp. 200.000
7. Membayar uang kuliah semester-1 Rp. 3.000.000,-
Note: –

Persyaratan Jalur Ekstensi

1. Lulusan program D3/Akademi dari Perguruan Tinggi Negeri atau Perguruan tinggi Swasta yang diakui oleh Dikti, antara lain:
a. Lulusan program D3 farmasi
b. Lulusan program Akademi Farmasi
c. Lulusan Politeknik Kesehatan Jurusan Farmasi
3. Copy leges ijasah dan transkrip
4. Pas foto 2×3, 3×4, 4×6 masing-masing 4 lembar
5. Lulus seleksi penerimaan mahasiswa
6. Membayar uang pendaftaram Rp.200.000
7. Membayar uang kuliah semester-1 Rp. 3.500.000,-
Note: –

VISI & MISI

VISI :

Visi program studi yang sudah dirumuskan adalah menjadi Program Studi Farmasi yang mandiri dan unggul di Provinsi Sumatera Utara serta mampu bersaing secara Regional dan Nasional dalam penyelenggaraan Tri Dharma Perguruan Tinggi meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat guna menghasilkan lulusan yang berkompetensi dalam bidang Kefarmasian di Tahun 2018.

MISI :

  1. Menciptakan atmosfer akademik yang lebih kondusif untuk membangkitkan motivasi civitas akademika datang ke kampus.
  2. Mengembangkan kurikulum dengan kompetensi: Farmasi Klinik/Farmasi Rumah Sakit, Kimia Farmasi/Farmasi Forensik, dan Farmasi Bahan Alam yang mengedepankan kearifan lokal sebagai kajian utama yang menjadi landasan penyelenggaraan sistem pembelajaran yang bermutu, memiliki relevansi dan kompetensi tinggi.
  3. Mengembangkan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sebagai penunjang kompetensi Program Studi Farmasi sehingga IPTEK yang dikembangkan tetap bergayut dengan kebutuhan masyarakat.

Menjalin kemitraan dengan masyarakat, dunia usaha, pemerintah dan dunia pendidikan lainnya dalam usaha meningkatkan kompetensi Program Studi Farmasi.

Kompetensi Lulusan Sarjana Farmasi

Lulusan Program Studi Farmasi dibekali dengan pengetahuan, etika, ketrampilan dan kemampuan teknis serta manajerial di bidang farmasi; memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memanfaatkan Obat Asli Indonesia agar dapat diterima dalam pengobatan modern dan sejajar dengan obat sintetik; merani mengambil inisiatif dan risiko di bidang usaha (berjiwa entreprenuer / wiraswasta); memiliki kemampuan dasar dalam mengelola suatu apotek meliputi kemampuan managerial, keuangan dan marketing; mampu merencanakan, menghasilkan dan mengembangkan berbagai produk obat tradisional yang berasal dari alam; memiliki kemampuan untuk mengembangkan usaha sehingga dapat menjadi lebih berkembang; mampu secara sistematis mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan di industri farmasi, apotek, rumah sakit, sehingga dapat mencarikan solusinya (memecahkan permasalahan) dan dapat mengantisipasi pada saat mendatang dalam suatu sistem industri farmasi, apotek, atau rumah sakit;

Kompetensi dasar Sarjana Farmasi adalah memiliki kualitas dan integritas intelektual; berdaya saing tinggi baik secara akademis maupun moral; mampu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan; menyadari bahwa ilmu pengetahuan selalu maju dan berkembang; mampu menelusuri dan mendapatkan informasi ilmiah/keteknikan; mengetahui cara dan dapat terus-menerus belajar; dalam menangani tiap masalah, mampu mengungkap struktur dan inti persoalan serta menetapkan prioritas tahapan-tahapan penyelesaiannya; mengetahui dan dapat memanfaatkan kegunaan matematika dan teknologi informasi; dapat menerapkan ilmu dan pengetahuan; cakap dan terampil dalam bidang Farmasi; dapat menyelesaikan masalah secara logika, memanfaatkan data/informasi yang tersedia; dapat menggunakan konsep-konsep untuk menerangkan hal-hal yang tidak/kurang jelas; mampu mandiri dalam kerja dan upaya; mampu aktif berperan-serta dalam kelompok kerja; mampu berkomunikasi dengan para pakar dalam bidang keahlian lain dan memanfaatkan bantuan mereka; mampu memanfaatkan secara efektif sumber-sumber daya yang ada; mampu memulai rintisan pembentukan unit wirausaha di bidang Farmasi, mampu mengikuti perkembangan baru di bidang Farmasi, melaksanakan penelitian, atau mengikuti program studi di tingkat lebih lanjut.

Lulusan Program Studi Farmasi memiliki integritas yang kuat, kemampuan berkomunikasi baik lisan maupun tertulis, kemampuan berkerjasama dalam tim, kemampuan memahami pengetahuan terhadap etika, kemampuan mengikuti perkembangan pengetahuan di bidang arsitektur, kemampuan memimpin orang lain, dsb.

Investasi Tumbuh Pesat, Industri Farmasi Haus SDM 

Industri farmasi di Indonesia masih akan tumbuh pesat, diikuti kebutuhan tenaga ahli. Jadi, mahasiswa Farmasi tak perlu takut nganggur.

Kai Arief Iman Selomulya, Ketua Badan Litbang dan Advokasi Hukum Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GPFI) optimistis, bahwa sarjana-sarjana farmasi masih punya banyak peluang pekerjaan. Bahkan, sarjana dari luar farmasi pun, bisa bekerja di perusahaan farmasi. Ini, dilihat dari peluang pertumbuhan industri farmasi yang masih akan terus tumbuh, baik perusahaan asing, lokal, BUMN, maupun industri-industri lain yang masih ada korelasinya dengan obat-obatan.

Saat ini, di Indonesia hanya memiliki sekitar 200 perusahaan farmasi. Sekitar 32 adalah perusahaan asing (PMA). Ada empat milik BUMN, 20 perusahaan farmasi swasta lokal yang termasuk besar, dan 80 perusahaan menengah dan sisanya industri kecil, tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Jumlah industri ini, masih kurang sebanding dengan kebutuhan obat masyarakat Indonesia. Dari penduduk Indonesia sebanyak 240 juta jiwa, konsumsi obatnya hanya sekitar USD 16 miliar. Jumlah ini, masih kurang ideal untuk masyarakat yang sadar kesehatan. Karena, masyarakat yang derajat kesehatannya baik, adalah masyarakat yang mengkonsumsi obat-obatan modern. Idealnya seperti Amerika Serikat. Penduduknya 280 juta jiwa, tetapi konsumsi obatnya mencapai USD 80 miliar.

Optimisme pertumbuhan pasar obat dan industri farmasi juga ditunjang kebijakan pemerintah yang tengah menggalakkan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). Program ini memungkinkan masyarakat Indonesia tercover asuransi kesehatan secara merata. Dengan demikian, kebutuhan obat-obatan akan semakin tinggi. Tetapi ironisnya, kapasitas produksi obat dari industri farmasi Indonesia masih kurang mencukupi.

“Bisa dibilang, Indonesia masih kekurangan industri farmasi,” tandas dia. Membuka peluang investasi industri farmasi seluas-luasanya, adalah satu solusi terbaik. Selain bisa menyerap tenaga kerja lokal, Indonesia pun tak perlu impor obat untuk memenuhi kebutuhan obat yang terus meningkat. Jadi, peluang investasi industri farmasi akan terus bertumbuh.

Farmasi pun termasuk sektor industri yang cukup booming di Indonesia. Setiap tahun, terjadi kenaikan laju investasi cukup siginifikan, baik dari investasi asing maupun domestik.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Indonesia, investasi Penanaman Modal Asing di sektor industri kimia dan farmasi Indonesia, sepanjang 2010 memperlihatkan tren kenaikan. Dari periode Januari sampai Desember 2010, ada 159 proyek baru dengan realisasi investasi sebesar USD 798,4 Juta.

Grafik investasi Penanaman Modal Daerah Nasional (PMDN) di industri ini, juga turut merambat naik. Periode Januari-Desember 2010, sektor industri ini mendapatkan 64 proyek baru, dengan total nilai investasi Rp 3.266 Miliar.
Sementara, Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia, mengklaim, setiap tahun, industri farmasi tumbuh 10-15 persen.

Kalangan pebisnis pun makin optimistis, tahun-tahun ke depan, industri farmasi akan semakin bergairah. Optimisme ini dipicu kenaikan volume konsumsi obat masyarakat. Bahkan ditopang perbaikan perekonomian, sehingga daya beli masyarakat ikut meningkat.
“Selain kebutuhan obat dan daya beli meningkat, kenaikkan omzet juga dikarenakan produk industri farmasi yang semakin beragam,” kata Anthony C Sunarjo, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia.

Fenomena ini, membuat industri farmasi makin memperbesar kapasitas produksi. Varian produk pun semakin banyak. Dulu, industri farmasi hanya memproduksi obat-obatan, baik etikal maupun obat bebas. Sekarang, perusahaan ini mengekspansi produknya pada makanan, minuman, suplemen juga multivitamin, dan mungkin akan berkembang lagi, sesuai kebutuhan konsumen.
“Mereka memproduksi susu, makanan bayi, juga suplemen. Mestinya memang jaringan operasional perusahaan makin membesar,” kata Anthony.

Yang patut dicermati lagi, dalam perkembangannya nanti, SDM farmasi memang menerima tantangan besar. Mereka harus berpacu melawan teknologi. Desakan teknologi dan tuntutan standarisasi produk farmasi internasional, membuat industri farmasi mau tidak mau harus mengalihkan tugas SDMnya dari manusia ke mesin. Industri farmasi juga terus dituntut menyesuaikan diri dengan aturan internasional, sesuai standar pharma global. Kapasitas produksi industri farmasi yang kian membesar, justru harus didukung teknologi mutakhir, yang notabene justru memperkecil penggunaan tenaga manusia. Semakin besar pabrik farmasi, jumlah SDM-nya justru semakin menyusut. Fenomena ini sudah terjadi di industri farmasi raksasa di Amerika Serikat, Eropa, bahkan di beberapa negara Asia. Sarjana farmasi atau apoteker masa kini, juga tak hanya dituntut menguasai ilmu obat-obatan saja. Kalau hanya itu, bisa-bisa tenaga mereka bisa digusur dengan mesin. Sarjana farmasi, bahkan apoteker, juga harus menguasai ilmu managemen. Mereka harus bisa menjadi pemimpin, membuat kebijakan dan strategi untuk memajukan perusahaan farmasi.

Inilah tantangan besar bagi sumber daya manusia di bidang farmasi. Perguruan Tinggi, dalam hal Fakultas Farmasi atau MIPA, harus mempersiapkan SDMnya sesuai kebutuhan industri. Bahkan, trennya, para Perguruan Tinggi harus bisa mencetak SDM plus-plus. Siap? (*)

Indonesia Kekurangan Apoteker,  Bisnis Franchise? Kenapa Tidak…

Realitanya, Indonesia lain dengan Amerika Serikat atau Eropa. Meski didesak teknologi dan tuntutan standar global, industri farmasi Indonesia masih tetap butuh SDM manusia.

Kembali Kai Arief Iman Selomulya, Ketua Badan Litbang dan Advokasi Hukum Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GPFI), berpendapat, industri farmasi besar yang sudah go ekspor memang harus menyesuaikan standar pharmautical global. Di Indonesia memang sudah ada perusahaan yang begitu, dan serba mengandalkan  mesin. Tetapi persentasinya masih sedikit, mungkin hanya 5 persen saja. Itu pun, untuk perusahaan yang sudah mengeskpor produknya ke Amerika atau Eropa.
“Di Indonesia masih banyak perusahaan yang masih memanfaatkan tenaga manusia, dikombinasikan dengan mesin. Bahkan, kalau investasi di industri farmasi terus tumbuh, akan semakin butuh tenaga farmasi,” papar Kai Arief.

Kalangan industri berharap kampus mencetak SDM-SDM ahli yang plus-plus. Tak sekadar pandai berteori, mahir dan menguasai ilmu fakultasnya, mereka juga dituntut untuk memiliki sklil lebih. Misalnya saja, kemampuan managerial dan wawasan yang luas di luar ilmu faknya. Itu, dari sisi SDM sebagai tenaga kerja.

Peluang pekerjaan di bidang farmasi di Indonesia dari tahun ke tahun pun terus berkembang.
Sebagai gambaran, sedikitnya ada lima channel bagi SDM farmasi menekuni karirnya.
Yang pertama, kata Arief, bekerja sebagai profesionalis di industri farmasi. Sarjana farmasi atau apoteker bisa menempati posisi penting di bidang produksi dan managerialnya. Alternatif kedua, bekerja di Pedagang Besar Farmasi (PBF), yang banyak didominasi perusahaan distributor obat-obatan, seperti Enseval Putra Megatrading. Selain tenaga ahli farmasi, perusahaan distributor juga banyak menyerap SDM  non farmasi. Terutama, tenaga pemasaran yang disebut Medical Representatif. Ada pendidikan khusus bagi mereka yang bukan dari jalur farmasi. Tenaga ini butuh SDM banyak. Perusahaan pun menawarkan jenjang karir dan pendapatan tinggi. Sementara, bagi tenaga kerja dari jalur farmasi, juga akan mendapat pendidikan managemen suplai serta materi seputar bisnis dan marketing.

Lulusan farmasi tentu saja, bisa bekerja sebagai apoteker di apotek-apotek. Sebab, setiap apotek, baik besar atau kecil, wajib memiliki apoteker. Saat ini, di Indonesia bisnis apoteker juga mulai naik daun, seiring dengan tren bisnis franchise di bidang apotek. Di kota-kota besar, seperti Jakarta atau di pulau Jawa, apoteker memang sudah banyak. Tetapi di kota-kota kecil, apalagi di kawasan Sulawesi, Sumatera, Kalimantan, bahkan Papua, profesi apoteker masih sangat langka. Bisa dibilang, Indonesia masih kekurangan apoteker. Tentu saja, fenomena ini menjadi satu tantangan lagi bagi sarjana-sarjana farmasi atau calon apoteker untuk mengembangkan dan mengabdikan diri di kota-kota kota-kota kecil. Siapkah mereka?

Ketua Umum Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Drs. M. Dani Pratomo, MM, Apt, pun mengatakan, saat ini, di Indonesia baru ada sekitar 30 ribu apoteker. Sedangkan rasio apoteker di Indonesia adalah 1 banding 8000. Jumlah ini masih kurang ideal. Setidaknya meniru  negara Asean lainnya, satu orang apoteker hanya melayani 4 ribu sampai 5 ribu orang saja. Di Rumah Sakit Indonesia pun, sebenarnya masih kekurangan apoteker. Sebab, yang terjadi sekarang, rumah sakit hanya menyediakan 1-2 apoteker saja. Padahal, sesuai dengan aturan, idealnya, setiap 30 bed untuk pasien, rumah sakit menyiapkan satu apoteker. Fakta ini menunjukan bahwa Indonesia memang masih kekurangan apoteker.

Peluang kerja yang lebih sederhana lagi, ada di toko obat. Sekarang, toko-toko obat besar, terutama yang berlinsensi, juga harus memperkerjakan apoteker. Setidaknya, ada asisten apoteker.
Alternatif lain, para ahli farmasi tentu saja bisa terjun sebagai entrepreuner di bidang obat-obatan dan farmasi. Bisa membuka toko obat, franchise apotek atau malah merintis industri farmasi mulai dari skala kecil.

Kini, perusahaan sekelas Kimia Farma Tbk, pun menawarkan menawarkan sistem waralaba (franchise ) untuk pembukaan toko apotek berlabel Kimia Farma. Keberadaan waralaba apotek Kimia Farma ini akan melengkapi sistem kerjasama operasional (KSO) apotek yang selama ini telah berjalan.

Bagi yang punya dana, bisa inves awal sebebsar Rp 460 juta (di luar sewa tempat) khusus untuk pembukaan apotek baru, sedangkan untuk apotek yang akan dikonversi (apotek lama) hanya Rp 350 juta. Pihak Kimia Farma mengenakan royalty fee 1,5 persen dari penjualan per bulan, dengan masa kerjasama waralaba yang ditawarkan selama 6 tahun.
Kimia Farma menjamin Break Even Point (BEP), atau tingkat pengembalian modal akan kembali dalam waktu 3-4 tahun semenjak dimulai investasi. Selain mendapat stok obat sebesar Rp 150 juta, mitra franchise juga akan mendapat kelengkapan brand sign, perizinan, pembuatan rak, counter dan furnitur, point of sales dan sistem informasi, training SDM, peralatan apotek seperti AC, kulkas, TV, alat tulis kantor.

“Investasi sebesar Rp 450 juta itu sebagian untuk stok (obat), komputer, software, termasuk training dan pegawai dan lainnya,” kata Direktur Utama Kimia, Farma Sjamsul Arifin. (*)

1 : Peluang Kerja Ahli Farmasi

Peluang Kerja Sarjana Farmasi :
1.    Apotek
2.    Pedagang Besar Farmasi (PBF)
3.    Industri Farmasi sebagai :
• Bagian penelitian dan pengembangan obat
• Bagian produksi obat
• Bagian Quality Control (QC)
• Bagian penjualan (sales) dan pemasaran (marketing) obat.
4. Instansi pemerintahan dan TNI / Polri apoteker bisa bekerja di:
• Bagian administrasi pelayanan obat pada instansi pemerintah/TNI/Polri
• Departemen Kesehatan (Depkes), Badan Pengawasan Obat Makanan (BPOM)
• Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas|) sebagai dosen bidang farmasi
5. Peneliti
6. Di klinik pemeriksaan
7. Wirausaha

Industri Farmasi di Indonesia

Proyek investasi Industri Farmasi Indonesia Januari – Desember 2010:

PMA                 : 159 proyek baru, nilai USD 798,4 Juta.
PMDN             :  64 proyek baru, nilai Rp 3.266 Miliar.
Growth Industri Farmasi :    :  10-15 persen per tahun
sumber :  Badan Koordinasi Penanaman Modal Indonesia

Jumlah Industri Farmasi di Indonesia     : 200 Perusahaan
Perusahaan asing (PMA)             : 32 Perusahaan
BUMN                     : 4 Perusahaan
Perusahaan Swasta Lokal (PMDN) Besar     : 20 Perusahaan
PMDN Menengah                 : 80 Perusahaan
PMDN Kecil                     : Sisanya
sumber : Gabungan Pengsuaha Farmasi Indonesia

Apoteker di Indonesia
Jumlah Apoteker di Indonesia         :  Sekitar 30 ribu Apoteker
Rasio tugas apoteker di Indonesia         :  1 Apoteker melayani 8000 orang
Idealnya tugas apoteker di Indonesia     :  1 Apoteker melayani 4 -5 ribu orang
Idealnya apoteker di Rumah Sakit         :  1 Apoteker melayani 30 bed pasien
Sumber; Ikatan Apoteker Indonesia

Brosur-S1-Farmasi
Brosur-S1-Farmasi
Brosur-S1-Farmasi.jpg
1.0 MiB
8959 Downloads
Details